Sabtu, 31 Januari 2026

Karya Sastra Peninggalan Kerajaan Kediri (Resume)

    Kerajaan Kediri (atau Panjalu) adalah salah satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha terbesar di Jawa Timur yang berpusat di Daha antara tahun 1042 hingga 1222 M. Kerajaan ini lahir dari pembagian wilayah oleh Raja Airlangga untuk menghindari perang saudara antara dua putranya. Puncak kejayaan Kediri terjadi pada masa pemerintahan Raja Jayabaya, di mana wilayah kekuasaannya meluas dan sektor pertanian serta perdagangan maritim berkembang pesat di sepanjang aliran Sungai Brantas.

    Selain kekuatan politiknya, Kediri sangat menonjol dalam bidang sastra dan ramalan. Banyak karya sastra terkenal lahir pada era ini, seperti Kakawin Bharatayuddha, serta ramalan Jangka Jayabaya yang masih melegenda hingga kini. Runtuhnya kerajaan ini dipicu oleh perselisihan antara Raja Kertajaya dengan kaum brahmana, yang kemudian dimanfaatkan oleh Ken Arok untuk menyerang Kediri dalam Pertempuran Ganter, menandai berakhirnya era Kediri dan dimulainya Dinasti Singasari.

    Kerajaan Kediri sangat terkenal dalam bidang sastra, maka berikut 6 karya sastra peninggalan kerajaan kediri.

1. Kitab Bharatayuddha

    Kitab Bharatyuddha adalah salah satu karya sastra paling monumental dari zaman Kerajaan Kediri. Kitab ini merupakan sebuah kakawin (puisi kuno) yang digubah dalam bahasa Jawa Kuno. Kitab Bharatayuddha dibuat pada tahun 1157 M, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Jayabaya. Secara garis besar, kitab ini menceritakan tentang perang saudara selama 18 hari antara keluarga Pandawa dan Kurawa untuk memperebutkan takhta Hastinapura. Kitab ini merupakan adaptasi dari epos Mahabharata yang mengisahkan perang saudara antara Pandawa dan Kurawa, namun telah disesuaikan dengan latar budaya Jawa Kuno. Secara politis, kemenangan Pandawa dalam kitab ini digunakan sebagai simbol keberhasilan Raja Jayabaya dalam menyatukan kembali wilayah Jenggala dan Panjalu yang sempat terpecah. Hingga kini, narasi dalam Bharatayuddha tetap menjadi fondasi utama dalam dunia pewayangan Nusantara.
 
2. Kitab Kresnayana

    Kitab Kresnayana dibuat pada awal abad ke-12, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Sastraprabhu (Sri Jayawarsa Digjaya Sastraprabhu) yang memerintah sekitar tahun 1104 M. Karya ini digubah oleh Empu Triguna dan menjadi salah satu kakawin tertua dari tradisi sastra Kerajaan Kediri. Isinya menceritakan aksi heroik Kresna yang membawa lari Dewi Rukmini demi menyelamatkannya dari perjodohan paksa, sebuah kisah yang memadukan unsur romansa dengan kesaktian Kresna sebagai titisan Dewa Wisnu.

3. Kitab Smaradahana

    Kitab Smaradahana adalah karya sastra kakawin yang digubah oleh Empu Dharmaja pada masa pemerintahan Raja Kameswara di Kerajaan Kediri, diperkirakan dibuat pada awal abad ke-12 (sekitar tahun 1115-1135 M). Kitab ini mengisahkan peristiwa tragis namun suci tentang terbakarnya Dewa Kamajaya (dewa asmara) dan Dewi Ratih oleh sorot mata ketiga Dewa Siwa yang sedang terganggu dalam semadinya. Meskipun raga mereka musnah menjadi abu, jiwa mereka diceritakan tetap hidup dan menyatu ke dalam hati setiap manusia untuk menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang. Secara politis, kitab ini juga berfungsi sebagai bentuk pujian dan legitimasi bagi Raja Kameswara, yang sosoknya dipersonifikasikan sebagai titisan Dewa Kamajaya di dunia karena ketampanan dan kebijaksanaannya.

4. Kitab Sumanasantaka

    Kitab Sumanasantaka adalah karya sastra kakawin yang digubah oleh Empu Monaguna pada awal abad ke-13, tepatnya sekitar tahun 1204 M pada masa pemerintahan Raja Warsajaya di Kerajaan Kediri. Judul kitab ini secara harfiah berarti "Kematian karena Bunga Sumanasa," yang merujuk pada kisah cinta tragis antara Pangeran Aja dari Ayodhya dengan bidadari bernama Dewi Indumati. Kisahnya bermula ketika Indumati yang sedang dikutuk menjadi manusia harus kembali ke kahyangan setelah tubuhnya terkena mahkota bunga sumanasa yang jatuh dari langit, meninggalkan Pangeran Aja dalam kesedihan mendalam hingga akhirnya sang pangeran pun menyusul wafat.

5. Kitab Gatotkacasraya

    Kitab Gatotkacasraya digubah oleh Empu Panuluh pada masa pemerintahan Raja Jayabaya sekitar pertengahan abad ke-12 (sekitar 1157 M). Kitab ini mengisahkan bantuan Gatotkaca dalam memfasilitasi hubungan asmara antara Abimanyu dan Siti Sundari yang terhalang perjodohan politik dengan putra Kurawa. Melalui kesaktiannya, Gatotkaca berhasil menyatukan pasangan tersebut, menjadikan kitab ini unik karena memadukan sisi kepahlawanan dengan unsur romansa dan humor dalam lingkungan keluarga Pandawa.

6. Kitab Hariwangsa

    Kitab Hariwangsa adalah karya sastra kakawin yang digubah oleh Empu Panuluh pada masa pemerintahan Raja Jayabaya, diperkirakan dibuat pada pertengahan abad ke-12 (sekitar tahun 1157 M). Kitab ini merupakan pengembangan dari kisah dalam Kitab Kresnayana, yang menceritakan kembali peristiwa pernikahan Kresna dengan Dewi Rukmini, titisan Dewi Sri. Fokus ceritanya terletak pada pertempuran hebat antara Kresna melawan sekutu Jarasanda dan para raja yang tidak setuju atas penyatuan Kresna-Rukmini, di mana Kresna akhirnya menunjukkan wujud aslinya sebagai Dewa Wisnu untuk memenangkan peperangan.


Febyola Nafiri Br. Tobing (11) X MB 10 


sumber :

- WIKIPEDIA

- Ringkasan AI

- Alchetron (gambar)

Panda: A Unique Bear Species

     The giant panda , often called " Panda ," is an animal native to China . This animal has the Latin name; Ailuropoda melan...